Sampah

Mungkin saya bodoh malam ini. Ya anggap saja saya sedang bodoh karena menghabiskan tissu berlembar-lembar. Sudah jelas-jelas kayu-kayu di hutan Indonesia semakin berkurang, tapi saya tetap saja menarik satu demi satu tissu yang ada di hadapan saya, terus menerus, terus menerus hanya untuk membasahinya dengan air yang tak kunjung bisa saya tahan. Tiba-tiba saja meleleh begitu saja.

Hingga tissu itu menggunung di hadapan saya, bertumpuk di sana dan saya memandanginya dengan pandangan kabur. Oh saya sedang tidak mengerti bagaimanapun saya berusaha memahaminya. Padahal saya bisa saja menggunakan serbet untuk mengelap wajah yang basah terus menerus. Saya juga bisa menggunakan handuk yang jangkauannya hanya satu meter, tapi, saya menggunakan tissu.

Tahukah rasanya seperti apa?
Seperti kaca retak-retak yang kemudian ditabrak hingga hancur berkeping.
Lalu jadi sampah.
Tissu pun jadi sampah.

Iya, rasanya seperti sampah. Sampah. Benar-benar rasa sampah.

Komentar

Postingan Populer