Sabtu, 15 November 2014

Kue Tart Pandangan Pertama

Ngomong-ngomong, sejak beberapa hari yang lalu, saya ribut minta kue tart ke suami. Memang ya gak ada tuntunan secara agama buat memperingati hari lahir, saya juga cuma ribu-ribut caper minta kue tart ke suami karena permintaan nasi kuning bikinan suami tidak di-ACC oleh suami.

Ngomong-ngomong lagi tentang kue tart, selalu membawa ingatan saya kepada suatu hari semasa saya kecil dimana saya melongo nan takjub melihat kue tart pengantin dua tingkat berwarna merah jambu dengan patung sepasang pengantin di atasnya. Maklumlah, pada masa itu kue tart pengantin masih merupakan barang langka dilihat dan roti-rotian pada jaman itu masih seputar kue bolu bundar dengan hiasan seciprit batik coklat yang dioleskan dengan lidi sewaktu adonan akan dibakar.

Kue tart pandangan pertama tersebut membuat saya takjub, dan saya ingat sekali karena saking penasaran dan kepinginnya, saya sampai ngarep sang pengantin akan segera memotong kue tersebut lalu dibagi-bagikan pada hadirin. Sayangnya, hingga acara usai kue pengantin tersebut masih utuh bertengger di meja dengan krim merah jambunya yang melambai-lambai untuk diculek. Berhubung saya anak yang manis pada waktu itu :-p, saya tidak merengek atau melakukan kenakalan apapun demi mendapatkan sepotong kue tart tersebut.

Waktu pun berlalu dan ingatan seputar kue tart merah jambu tersebut masih terpatri dalam ingatan saya. Saya justru melupakan saat dimana bertahun-tahun kemudian saya beneran mencicipi kue tart untuk pertama kali, saya lupa dimana, yang jelas pada acara ulang tahun dan oh ternyata kue tart hanyalah sebuah kue yang diolesi krim. Pemahaman sederhana tersebut menggiring saya pada sebuah pemahaman sederhana pula mengenai rasa kue tart yang menurut saya ternyata juga sederhana.

Selanjutnya ada saat-saat lain dimana saya juga mencicipi kue tart lagi. Cicipan itu selalu membawa kenangan akan kue tart merah jambu saat saya masih kecil.   Pada ide konyol tentang niat menyusun tumpukan roti tawar kemudian mengolesi seluruh permukaannya dengan margarin agar menyerupai kue tart. Pada acara ulang tahun. Pada nasi kuning buatan Ibu ketika hari jadi saya. Pada usaha Ibu untuk menjadikan hari jadi menjadi sedikit spesial dari hari biasanya dengan memberikan tawaran kado 'mentahan' ketika saya beranjak dewasa. Pada usaha Ibu untuk selalu mengingat hari ulang tahun putra putrinya, meskipun sedang berjauhan. 

Seperti kemarin, ketika otak-beranjak-dewasa saya sebenarnya sudah tidak mensakralkan momen hari jadi, Ibu menelpon saya, mengucapkan selamat hari lahir, seraya seperti biasa menawarkan mau kado apa. Saya terkekeh, dibalut sikap tidak romantis saya yang kadang muncul tidak pada tempatnya, saya minta didoakan saja. 

Doa-doa pun meluncur. Semoga Allah mengabulkannya dan memberikan yang terbaik. Aamiin.

Kembali lagi soal kue tart yang saya rengekkan kepada suami. Rengekan caper :-p yang semakin hari semakin menjadi dan menyusut drastis di H-1. Saya hanya menggodanya, karena di penghujung  hari itupun saya bilang, tidak usah dibelikan kue tart, mari kita nanti makan di luar saja  ---->aslinya karena sedang malas masak :-p

Lalu sepulang saya kerja, pikiran saya tertuju pada kulkas. Ada hal-hal semacam 'I can read your mind' ketika kita sudah membagi keseharian dengan seseorang. Pikiran saya, suami saya tetap membelikan saya kue tart dan ternyata memang iya :-)





Terimakasih sebesarnya untuk semua orang yg telah menyayangi saya :-). Sejujurnya, ini kue tart ulang tahun pertama saya :-). Dan saya tetap kangen dibuatkan nasi kuning oleh Ibu :-)


Bontang, malam minggu kedua bulan November. 

Senin, 20 Oktober 2014

Hello :-)

Hello, jumpa lagi :-p.

Astaga banget yah, sudah setahun blog ini dianggurin, terutama sejak sibuk mengurus diri sendiri secara serius :-p, persiapan pindahan ke Bontang serta terputusnya jaringan internet via lepitop. Lumayan kaget juga saat tahu bahwa tanggal terakhir saya posting di sini itu sudah cukup lama, setahun yang lalu lebih beberapa hari. Aihh, tak terasanya waktu....

Kemarin sempat minta sama Abang buat dibelikan kartu baru buat modem. Ahikk. Ketiadaan internet via lepitop ternyata cukup signifikan mempengaruhi rutinitas ngeblog (aihh, padahal bilang aja males posting). Kartu yang dulu sekali rutin saya pake buat internetan kehilangan sinyalnya secara signifikan sejak saya pindah ke Bontang. Apa gunanya coba punya kartu tapi non sinyal? Selanjutnya sempat ada jeda lama dimana kami dipehapein soal jaringan internet yang karena kerusakan tower (atau apalah) membuat rumah kami tidak terjangkau oleh kabel provider. Ya sudahlah. Begitulah. 

keinginan ngeblog lagi muncul setelah rasanya sekian lama vakum menulis. Saya sampai hampir lupa ending Phosphorus :-p, apalagi ketika menyadari kualitas tulisan saya semakin menurun, serta ketidakmampuan saya merangkai paragraf dengan kalimat indah nan efektif, tata bahasa semakin kacau, kualitas membaca yang menurun serta adanya pekerjaan baru yang menguras tenaga *tsaahhh

Saya memang ingin menulis lagi, karena dulu saya begitu cinta menulis. Sekedar diawali dari menulis blog pun tak apa, ketimbang tidak sama sekali. Ya kan? Ya kan? Ya kaaaaan? Lagipula sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan, hihihhh serta beberapa perkembangan mengenai hidup saya *ahikkk.

Oke. Oke :-)

Selasa, 24 September 2013

Overestimate, Psikologi dan Serabi

Saya cukup terkesan dengan overestimate beberapa orang terhadap para mahasiswa dan mahasiswi psikologi. Yeah, mungkin tidak selalu overestimate, ada yang benar-benar nyata seperti itu, tetapi juga ada yang kadang-kadang hanyalah sebuah harapan yang masih harus senantiasa diperjuangkan.

Maka, akan menjadi nyengir tralala, ketika bertemu dengan orang baru, kemudian seseorang tersebut akan mengucapkan kalimat pertama seperti, "eh anak psikologi ya? berarti bisa baca kepribadianku dong? menurutmu aku ini orangnya gimana?" atau seperti ini , "wah bisa baca pikiran dong?"

*Dong. Kalau yang dimaksud dengan membaca pikiran adalah menebak angka apa yang sedang dia pikirkan, maka saya pikir, anak psikologi harus merebut kemampuan Edward Cullen.

Kembali lagi tentang anggapan orang lain yang mengesankan terhadap mahasiswa psikologi. Saya tipe rada galau-an. Ujung-ujungnya kalau lagi galau, saya curhat ke seseorang. Tapi badala dangdut bener kalau mood curhat saya langsung dipatahkan dengan kata-kata, "anak psikologi masak galau sih? anak psikologi masa stres sih? anak psikologi masa gak bisa memotivasi diri sendiri?"

Dan yang lebih nyesek lagi kalau sampai mendengar, 'mahasiswa psikologi yang gagal adalah mahasiswa psikologi yang stres ketika ngerjain skripsi."    -leher mana leher-

Kembali lagi ke anggapan orang lain yang mengesankan tentang mahasiswa psikologi. Suatu hari di kampus, saya pernah mendapati dua orang dosen yang sedang kebingungan mencari ponsel mereka yang tiba-tiba raib. Entah beliau-beliau yang lupa meletakkannya atau bagaimana, tetapi beliau-beliau ini tampak wara wiri mencari  di seputar kampus. Saya sempat mendengar mas-mas penjaga berkata yang intinya, "kemungkinan besar hape-nya cuma keselip dimana gitu. saya yakin gak mungkin ada anak psikologi sini yang mau ngambil hape."

Tentu saja saya terkesan dengan pendapat mas-mas tersebut. Memang selama saya kuliah di sini, saya belum pernah mendengar kabar kehebohan tentang barang yang hilang. Bicara tentang kejujuran, di kampus saya kini ada beberapa warung kejujuran. Misalnya warung kejujuran yang digelar di ruang himpunan mahasiswa jurusan dimana ada aneka makanan kering yang dijual, silahkan ambil dan silahkan bayar sendiri di tempatnya. Juga ada yang menyediakan alat tulis dengan metode sama. Mau print pun juga bisa, print sendiri dan bayar sendiri.

Baru-baru ini, warung kejujuran berkembang menjadi lebih maju dimana ada satu lapak lagi di dekat tempat parkir yang menjual aneka makanan basah seperti sosis, serabi, dadar gulung dan tahu bakso. Semuanya ditempatkan dalam wadah makanan, diberi label harga, diberi tempat uang sendiri-sendiri (karena yang nitip makanan orangnya beda-beda) dan semuanya diletakkan di meja panjang dekat tempat parkir. Yang mau makan tinggal ambil sambil cemplungin uang ke kotak uang sesuai dengan makanan yang diambil. Si empunya penitip makanan, yang juga anak-anak psikologi dari berbagai angkatan, meninggalkan kotak jualannya di sana lalu kuliah seperti biasa.

Hingga suatu hari....

Saya duduk di dekat lapak makanan basah tersebut. Dua anak psikologi duduk, satu ambil serabi, digigit separuh, dikunyah, bla-bla-bla, dan yang separuhnya lagi diletakkan di atas tutup wadah serabi lain yang masih utuh. Temannya menegur, kenapa tidak dihabiskan? anak itu hanya mengangkat bahu, berucap sesuatu, lalu segera berlalu meninggalkan sepotong sisa serabi yang telah digigitnya, di atas wadah berisi serabi lain yang masih utuh. 

Saya bengong melihat perilaku semacam itu. Pertanyaannya adalah, kenapa dia meninggalkan serabi tersebut di sana? Tidak enakkah? Bukankah lebih sopan jika serabi tersebut dibuang tanpa diketahui pemilik serabinya dan bukan diletakkan begitu saja dengan kondisi sudah tergigit?

Atau dia meninggalkan serabinya untuk diambil lagi nanti? Entahlah, tapi sampai saya meninggalkan lapak itu, potongan serabi itu masih tetap berada di sana. Di luar apapun alasannya, sejujurnya, saya gemes melihat seseorang yang meninggalkan makanannya yang tidak habis di tempat terbuka padahal dia masih bisa membuangnya.

Pertama, tentu itu menyakiti orang lain. Orang yang membuat serabi, orang yang menjual serabi tersebut. Jika dia ingin memberitahu si penjual serabi jika serabinya tidak enak misalnya, maka tentu ada cara lain yang lebih berkelas untuk memberitahukannya. Saya pernah membaca sebuah cerita, bahwa para pencuci piring di warung makan sering merasa sedih jika mendapati makanan sisa banyak di piring-piring yang mereka cuci. Dengan kata lain, makanan yang tidak habis akan menyakiti orang yang mencuci piringnya. Lalu apakah kita harus memakan habis makanan yang tidak enak tersebut?

Sekali lagi, ada cara yang menurut saya lebih terhormat untuk memberitahukan ketidakenakan suatu makanan. JIka kita memutuskan suatu makanan kurang kita sukai, tentu akan lebih bijak jika kita memutuskan untuk tidak membelinya lagi. Toh enak tidak enak itu masalah selera. Jika kondisi masih memungkinkan bagi kita untuk membuang makanan yang tidak kita sukai tersebut, maka lebih baik menyingkirkannya daripada harus menyisakan di piring.

Kedua, perilaku seperti itu menyakiti calon pembeli lain. Dengan kata lain, menyakiti 'mata' calon pembeli lain. Bagaimana perasaan kalian jika kalian akan membeli makanan namun melihat ada makanan sisa yang sudah digigit nangkring di atas wadah makanan yang akan kalian beli?

Pada detik-detik setelah kejadian tersebut berlangsung, satu hal yang hinggap dalam pikiran saya, "itu benar perilaku anak psikologi?"

Saya tahu, kita semua memang harus banyak belajar. Ya, seperti itu. Tapi bahkan kini saya mengharapkan bahwa seharusnya anak psikologi tidak berperilaku seperti itu. Ah, saya pun mulai overestimate tentang bagaimana seharusnya anak psikologi berperilaku. Saya pun mulai berharap, seharusnya anak psikologi tidak begitu... Saya pun mulai berharap, seharusnya....

Semoga memang kelak ada penjelasan yang lebih lanjut sehingga saya dan orang lain pun akan selalu terkesan dengan perilaku anak psikologi :-).

Salam trisula.

*tanpa bermaksud menjelek-jelekkan.

Rabu, 04 September 2013

Sepak-----Bola

Dulu, jaman dulu sekali, saya ingat pernah ditanya, mana yang akan saya pilih salah satu, apakah berada pada sebuah club malam sembari ajep-ajep ataukah berada pada sebuah pertandingan sepakbola dengan suporter yang rusuh. Saya ingat jawaban saya, bahwa saya memilih berada pada kerusuhan sepakbola. Kala itu otak saya masih berpikir bahwa berada dalam kerusuhan sepakbola terlihat lebih baik daripada harus ajep-ajep dengan resiko dicolak-colek apapun *ngueeeng-stop muntah*. 

Maksud saya, berlarian ke sana ke mari menyelamatkan diri terlihat lebih baik daripada harus paranoid memikirkan resiko ajep-ajep di dunia malam yang resikonya terlalu elegan menghampiri. Paham maksud saya? Aneh? Oke, abaikan saja.

Sekarang, saya tidak ingin memilih berada pada kerusuhan suporter sepakbola. Tidak juga memilih berada di club malam. Saya bukan suporter manapun, hanya pernah 3 kali menonton pertandingan sepakbola secara langsung di stadion_ 2 kali pertandingan antarklub dalam negeri, 1 kali pertandingan timnas_ dan itupun selalu mepetndusel ke pacar karena saya takut ilang di sana, apalagi dengan keparahan navigasi saya ketika semua tribun tampak sama -_-".

Saya juga bukan fans berat sepakbola. Kata pacar, saya jadi suka sepakbola sejak pacaran dengannya, tapi saya masih mengernyitkan dahi ketika menganggap bahwa saya seorang penggila bola. Saya tidak punya atribut bola apapun, tidak pernah beli meskipun itu sekedar syal timnas dan sudah ditawari dibelikan oleh pacar, tidak tahu nama-nama pemain sepakbola klub kabupaten tempat saya dilahirkan dan jangan coba-coba tanyakan tentang pemain bola luar negeri pada saya. Saya tahu (sekedar tahu) Christiano Ronaldo, Kaka, Casillas, karena katanya mereka ganteng *eh salahfokus.

Sedangkal itukah pemahaman saya tentang bagaimana seharusnya menjadi suporter sejati pecinta sepakbola? entahlah.

Kembali tentang sepakbola beserta segala tragedinya. Mulai dari dualisme kepemimpinan, kekisruhan liga, managemen internal beberapa klub yang kurang bagus serta keributan antar suporter. Dan akibat dari kekepoan saya terhadap beberapa fanspage suporter bola beberapa jam lalu, saya langsung berasa mual dan mumet. Lebay? Tidak. Saya mual dan mumet ketika melihat para suporter saling perang kata-kata di fanspage tersebut. Saling caci dan saling maki bukan atas nama pribadi. Yeah, orang memang bisa membela mati-matian terhadap sesuatu. Tetapi, tetap saja ada bagian yang saya tidak mengerti.

Bagian yang saya tidak mengerti adalah ketika ada yang mulai menertawakan penderitaan orang lain. Tertawa, berkomentar pedas, bahkan memaki ketika orang lain yang terluka. Hei, mana empatinya? Kenapa tertawa dan sempat memaki ketika ada yang terluka parah? Apakah loyalitas pada sesuatu membuat empati hilang? Saya pribadi, bukan suporter fanatik manapun, mual membaca itu semua. Sedih, bahkan kepingin mewek. Lebay? Tidak. Saya terlalu bingung untuk memahami itu semua *selo tenan hidup aye ya*.

Saya sungguh ingin tahu, apa yang ada di pikiran seseorang yang menertawakan penderitaan orang lain. Tidak mualkah melihat seseorang yang terluka berdarah-darah? Tidak sedihkah melihat diri sendiri yang aneh karena tertawa melihat orang lain terluka? Hei, ini baru sepakbola. Bukan aneka kudeta kekuasaan seperti yang terjadi di luar sana dan menimbulkan lebih banyak korban. Jika untuk urusan semacam itu saja sudah kehilangan empati, bagaimana untuk urusan lain yang lebih besar seperti misalnya eng......

Betapa sepakbola mempunyai daya luar biasa untuk mengubah dan mempengaruhi seseorang. Ajaibnya lagi, fanatisme sepakbola mampu mengobarkan semangat emosional. Lihat saja bagaimana isu-isu bertaburan, serta betapa mudahnya orang lain menjadi emosional menanggapi aneka berita yang belum dicek kebenarannya. Pemimpin dan orang pintar bisa kisruh karena sepakbola, pertandingan sepakbola pun bisa jadi ajang taruhan, suporter bisa baku hantam dan saling caci karena sepakbola, bahkan istri pun juga bisa ngomel-ngomel karena suaminya kebanyakan main football manager -_-" #ehh.

Bahkan karena sepakbola serta terlanjur sedih, saya bisa telpon pacar saya yang kemarin habis saya jewer. Pada waktu itu saya cuma pengen bilang, "saya gak mau nonton bola lagi di stadion. Saya ngeri dan agak trauma hanya karena dengar suporter saling caci dan rusuh. Saya ngeri melihat gambar-gambar berdarah yang dishare di jejaring sosial. Saya nggak ngerti kenapa mereka harus berkelahi dan saling caci. Saya nggak ngerti apa manfaatnya dari semua itu. Dan saya juga nggak ngerti kenapa saya jadi begini."

Rencananya sih bilang begitu. Tapi tampaknya pacar saya sudah bobo manis dan telpon saya nggak diangkat sehingga saya nggak jadi ngomel. Dan kini, entahlah, saya tidak tahu mana yang lebih baik, ikut nonton bola di stadion bareng pacar atau pacar pergi nonton bola tanpa saya dan saya kena serangan paranoid memikirkan keselamatannya. *ikiseriuslik*


Suporter sejati bukan berarti harus selalu berkorban (dan dikorbankan) sampai mati :-)

ah, tau apa saya tentang cara jadi suporter sejati...

Griya Margonda, 22.30.


Jumat, 02 Agustus 2013

0 kilometer!

Saya mengalami hari-hari yang panik akhir-akhir ini, apalagi kalo bukan urusan akademis. Ada hari-hari dimana saya merasa bahwa seharusnya satu hari adalah 30 jam :-D. Di kemepetan waktu menjelang lebaran serta target-target ramadhan yang belum tercapai, tiba-tiba saja saya harus sakit.

Nggak tiba-tiba juga sih. Awalnya karena saya pulang malam, lupa habis darimana, cuaca juga sedang dingin-dingin keras, stres menjelang ujian juga dan taraaaa...pileklah saya. Ini flu yang sungguh menyiksa, apalagi datang di saat saya harus mengurus banyak hal, bahkan keluar malam hingga jam setengah sepuluh pun harus saya lakukan di saat kondisi sedang tidak fit tersebut. Mau bagaimana lagi. Namun syukur Alhamdulillah, saya benar-benar merasakan betapa banyak teman yang berjibaku membantu saya, mengantarkan saya mencetak 600 halaman kertas :-D, mengantarkan saya malam-malam hingga underpass, membantu belanja parcel satu kardus besar, bahkan membuatkan saya jahe merah hangat. Aih, pengen ciyum dan peluk satu-satu.

Berhubung saya harus ujian, maka saya berusaha agar saya segera fit di hari ujian, bagaimanapun caranya. Kepala sakit, pusing, badan demam, hidung mampet, tenggorokan sakit, batuk, aih benar-benar nikmatnya sehat itu. Maka tiga hari berturut-turut saya menelan obat dengan cara mengunyahnya, selepas buka dan setelah sahur. Bisa ditebak, saya jadi molor habis minum obat. Diajak ngobrol pun nggak konsen, di kampus pun saya ngegeletak di ruang himapsi, pengennya tidur melulu. Dan puasa memang terasa lebih ajib pada saat seperti itu, tenggorokan gatel dan kering luar biasa, belum lagi kalo keluar kosan siang-siang, panasnya nyelekit banget. Duhh, baru segitu aja udah ngeluh ya.

Terus, saya pun keranjingan makan vitamin C, apalagi obat flu yang saya minum tidak berdampak secara signifikan. Habis buka puasa saya minum jahe anget, makan permen pelega tenggorokan, irit ngomong bahkan saya menghindari berdebat yang tidak penting karena suara saya mulai serak. Syukur Alhamdulillah, pada malam sebelum ujian, sakit kepala saya sudah hilang, tapi masih sentrup2, suara serak dan mual yang kadang-kadang datang.  Saya coba latihan presentasi dan ehh saya malah batuk-batuk mau muntah karena kerongkongan kering memicu keinginan untuk muntah.

Maka pada hari ujian pun, pasrahlah sudah. Cuma bisa cengar-cengir meski kadang saya kayak orang nggak mood karena kebanyakan diam (sesungguhnya saya malas ngomong banyak karena leher sakit). Pas ujian dan selesai presentasi pun rasanya pengen minum segalon karena kerongkongan kering banget. Huehue, Alhamdulillah, done!

Done!

Sekarang saya masih batuk dan sentrup-sentrup, tapi sudah lebih baik dan mood saya lumayan membaik dengan sangat signifikan :-.

 

Rabu, 24 Juli 2013

Semaput

Hello, world :-)
*sapu-sapu rumah. Lama tak menyapa rumah ini, karena ada kerjaan di rumah lain, semacam pengkhianatan sementara dari akun ini juga karena urusan akademis yang eng....belum kelar juga. What the....-_-"

Oke, jadi ceritanya saya mau cerita. Kelamaan dipendem juga gak bagus, bisa busuk jadinya. Eh sebenarnya lebih kepada saya yang kangen nulis cerita. Kangen nulis. Selain nulis cerita nonfiktif tipe "you know what" tentunya.

Jadi ceritanya beginih, senin kemarin saya lagi gak puasa. Hari pertama bolong dan bagi para pemilik uterus yang bisa mikir, tentu tahu hari pertama. Rasanya pengen nyengir seharian. Emosi dan mood naik turun tentu memang iya, tapi masih bisa dikendalikan lah, setidaknya saya belum ngacak-ngacak makanan ayam. Perut kram, juga masih rada bisa ditolerir karena cuma kadang-kadang kerasa. Tapi yang agak bikin gak tahan adalah pusing, pegal dan mualnya. Dih, nggak biasanya begini lho ya. 

Tapi hari itu, saya punya tekad untuk menjalankan suatu misi ketika misi awal belum dapat konfirmasi dari pihak yang terkait. Eh ndilalah, saya musti setrika baju dulu hingga hari pun beranjak semakin siang dan jeng jeng jeng, saya baru dapat konfirmasi untuk menjalankan misi pertama yaitu ke madrasah pada jam 12 siang.

Rencana pun berubah lagi dan saya siang-siang nan panas itu pergi ke Jogja dengan badan yang begitulah dan dengkul yang terasa semrepet. Tapi dikuat-kuatin, lagian juga udah biasa kayak begini, paling cuma capek sesaat. Sampailah saya di madrasah sekitar pukul setengah dua siang. Cuaca Jogja sedikit mendung dan syalala, baru sekitar pukul tiga sore lebih saya selesai menjalankan misi di madrasah.

Pulang, naik transjogja seperti biasa. Jalur 3B. Kadang-kadang saya suka bablas ganti bis 1B di daerah dr Yap saja daripada di samsat, soalnya kalo pas rejeki, bis 3B yg saya tumpangi bisa nyalip bis 1B sebelumnya hingga saya bisa naik 1B itu di shelter berikutnya, nggak perlu nunggu bis selanjutnya yang biasanya agak lama di shelter samsat. 

Sampai di dr Yap, saya akhirnya dapet juga bis 1B. Sebenarnya bisa sih tetep naik 3B buat ke bandara terus ganti 1A buat ke Prambanan, tapi pas itu saya ada rencana buat mampir ke Amplas. Dengkul saya udah pedes bener dan saya berniat cari nakamura karena badan berasa udah pegal semua-muanya. Ehhh, ngek ngok bener, jalanan Jogja di sore hari mulai macet, apalagi daerah Gejayan dan syalala banget buat nyebrang ke terminal Concat saja butuh waktu limabelas menit buat antri lampu merah doang. Dengkul dan kepala saya udah makin sepet, apalagi saya belum makan sejak pagi. #halahh.

Maka rencana mampir Amplas pun saya urungkan karena udah hampir jam lima sore dan saya memutuskan untuk tidak keluyuran terlalu malam dengan kondisi fisik yang amburadul seperti ini. Apalagi rasa-rasanya saya udah gak kuat buat sekedar jalan nyariin nakamura di Amplas. Capek bener dan cuma pengen cepet-cepet sampai di rumah.

Di shelter Janti utara, saya ganti bis 1A menuju Prambanan. Bis penuh dan saya berdiri senderan di deket jendela. Awalnya segalanya sih masih baik-baik saja, saya masih bisa mikir kalo satu tambah satu sama dengan dua, masih bisa mikir nanti mau beli kelapa muda di dekat Prambanan dan masih sensi seperti biasa tiap lewat bandara. Namun semua berubah ketika negara api menyerang, ketika sampai di daerah Kalasan sekitar dua kilometer dari Prambanan, saya mulai merasa pendengaran saya berkurang. Dan tiba-tiba pandangan saya menggelap. Gelap banget padahal belum maghrib.

Oh apaan ini? Seingat saya sih saya nggak panik waktu itu, tapi memang pandangan jadi gelap, suara-suara mulai kabur nggak jelas tapi saya masih bisa denger suara-suara di sekitar saya. Saya cuma ingat kalau otak saya nyuruh dengkul saya supaya duduk, tapi kayaknya tangan saya malah ngeraih tas kresek di dekat jendela buat jaga kalo mau muntah. Lalu gelap bret bret bret.

Inget-inget, saya udah di deket rumah temen saya, minum aqua gelas, ditanya apakah saya lagi hamil, tapi otak saya konslet bener rasanya. Saya cuma pengen pulang-pulang dan pulang. Akhirnya saya dianterin pulang sama bapak temen saya. Sampai rumah, udah ambruk gitu aja di kasur sambil pengen mewek. Pengen mewek bukan karena ngerasa badan rontok bener, tapi lebih karena merasa sendirian pas sakit di jalan. Dari dulu momen sakit ketika sedang sendirian itu selalu bikin hati saya nyeri.

Daaaaan, wejangan pun bertaburan dari mana-mana. Kebanyakan sih omelan karena saya nggak makan sejak pagi, juga omelan emang saya kudu dibikin kapok dengan cara semaput karena suka menyepelekan makan. Aduh gimana ya? Asli saya emang capek banget saat itu, jiwa raga *halah*, bukan laper. Meskipun tetep aja diomelin, kalo orang capek asalkan makan itu pasti tetep bakalan baik-baik saja. Duh, saya bingung deh gimana ngejelasinnya betapa susahnya nelen makanan dalam kondisi seperti ini. Yah begitulah. 

Rabu, 03 Juli 2013

Bribikan

Ceritanya, habis maghrib cari mamamia di warung dekat kosan, biasa, berdua sama Lilia. Pas nunggu pesenan jadi, eh ada 3 mbak-mbak datang, bukan mbak mbak juga sih karena secara sepertinya mereka lebih muda dari kita.

Mereka ngobrol bertiga, kita berdua anteng. Hingga terdengarlah bahasan tentang bribikan. Nguik.

"Cah lanang ki pasti tetep punya bribikan."

Ngek. Saya refleks ngikik. Lilia pura-pura nggak denger sambil memalingkan wajah ke arah saya. Bapak bakul maem kami pun langsung ikut nyengir sambil lirik-lirik ke arah kami.

"Biarpun udah punya bojo, cah lanang ki pasti tetep punya bribikan. Udah lah nggak usah nangisin dia, percuma."

Nguik. Bapak bakul makanan makin nyengir, kemudian berkata pelan, "aduh jadi gak enak."

Saya nahan ketawa. Lilia juga. Makanan selesai dibungkus, bayar, lalu pulang. Saya nggak tahu lagi gimana akhir cerita tentang bribikan itu.

Oke laaahh, meskipun saya juga tahu kalo cowok emang sering nyebelin soal bribikan, tapi membicarakan bribikan di tempat umum dan ada laki-laki lain juga terasa gimana gituuu. Semoga mbaknya or adeknya tidak menggeneralisir hal tersebut hanya karena dulu pernah dikhianati, dijadikan bribikan atau mungkin babenya juga punya bribikan. #eh.


hanya selingan. Bribikan = labaan = incengan = apapun kata yang berkaitan tentang itu.