Ikhwanophobia

                Sebuah istilah ngawur yang diciptakan sendiri tapi cukup punya arti tanpa harus dijelaskan. Perasaan phobia terhadap ikhwan, lebih tepatnya kumpulan ikhwan. Phobia  di sini bisa mempunyai arti bercabang, antara segan, salah tingkah, malu, takut beneran dan berusaha sebisa mungkin menghindarkan diri dari makhlukmakhluk yang namanya ikhwan.             Ekstrim banget sih?            
Dulu sih iya, rasanya seperti dekat-dekat dengan api unggun di siang bolong setiap kali berhadapan dengan ikhwan. Gara-gara sikap cuek wekwek sang ikhwan, jawaban satu dua tiga mereka serta ghadul bashar yang amat sangat.            
Dan persepsi itu berlandaskan atas pengalaman. Beneran deh, kadangkala kita para akhwat yang ngerasa superior begitu sok jagoan saat berhadapan dengan laki-laki biasa tapi langsung jiper saat berhadapan dengan ikhwan, apalagi kumpulan ikhwan Seperti kisah kami di suatu sore mendung saat semangat perjuangan begitu menggebu.            
Buat para akhwat yang kemana-mana selalu by bus, maka selalu memperhitungkan jam berapa paling lambat pergi sore-sore. Salah perhitungan sedikit bisa-bisa kami ngesot kelelahan jalan kaki atau bangkrut karena harus naik taksi. Dan biasanya amat sangat ogah pergi bakda Asar kecuali benar-benar kepepet.            
Dan saat itu, ternyata emang harus kepepet. Kepepet pergi ke pameran buku karena dapat undangan launching kumcer seorang ikhwan yang baru sempat dikenal namanya tanpa wajahnya. Undangan langsung, via sms, spesial yang ngirim penulisnya sendiri. Tapi jangan harap benar-benar spesial, karena launching itu disusupi misi pengambilan formulir pendaftaran suatu organisasi. Kalau mau dapet formulir, ya datang ke launching kumcernya. Pintarrrr......pintarrr banget masnya!            
Jam 15.30, sampailah kami di sebuah swalayan muslim di daerah Kartasura. Keliling-keliling liat buku, jilbab, bros, rok dll dan melongok ke panggung utama. Acara belum dimulai dan langit mendung serta keluguan kami yang masih bayi tinggal di Solo membuat hati semakin was-was. Apalagi ketika tidak berhasil menemukan panitia yang jelas bukan sekedar bayang-bayang dalam mengurus acara itu.            
Dan jrengjrengjreng,....acara baru dimulai pukul empat. Kami nyengir, akhirnya tahu perwujudan asli sang ikhwan yang kala itu didampingi Langit Kresna Hadi (penulis Gajah Mada) serta seorang dosen sastra UNS. Awalnya kami yang duduk di barisan belakang masih adem ayem saja karena baru sedikit orang yang ikut bergabung dalam acara tersebut. Tapi kemudian oh tidak....serombongan ikhwan mulai menduduki deretan depan dan kami baru menyadari, berhubung sang penulis masih tinggal di pesantren mahasiswa maka wajarlah kalau memboyong teman-temannya ke acara tersebut. Biar tambah rame.             Masalah muncul karena kami mulai berasa ambeyen, apalagi acara nggak kelar-kelar dan tujuan utama kami belum tercapai. Apalagi nggak jelas siapa yang saat ini tengah memegang formulir (nggak mungkin kami nyelonong ke panggung minta formulir ma sang penulis yang lagi launching kumcernya). Dan rupanya Allah sayang kami karena saat itu ada seorang ikhwan yang kelihatan jelas memegang tumpukan formulir, tapi masalahnya (benar-benar masalah besar) beliau berdiri di barisan paling depan. Paling depan! Di hadapan kumpulan ikhwan yang rasanya saat itu sudah beranak pinak menjadi sejuta di pandangan akhwat yang kena serangan ikhwanophobia secara mendadak.            
Hilanglah segenap rasa percaya diri, sok jagoan dan keberanian yang ada. Benar-benar deh, kami tidak punya keberanian untuk nyelonong minta formulir ke ikhwan tersebut. Posisinya mematikan. Rasanya lebih baik nari sama ondhel-ondhel atau nyanyi india bareng tetangga daripada harus melangkah ke sana. Tapi tujuan kami belum tercapai, dan harus tercapai mengingat kami akan sangat tidak rela sudah jauh-jauh datang ke tempat itu tanpa mendapatkan apa-apa. Demi dua lembar formulir!            
Akhirnya, kami melakukan tindak kejahatan tingkat pertama. Menowel-nowel seorang masmas setengah baya (beneran deh, kita nggak kenal siapa beliau) seraya memohon, “mas bisa minta tolong panggilkan masmas yang itu?”            
“yang mana Mbak?”           
 “yaang ituuh..., depan sendiri, lagi pegang kertas!” (rada maksa)            
Dan masmas tersebut begitu penurut dan baik hatinya memanggilkan ikhwan yang pegang formulir. Sang ikhwan sempat menoleh bingung (siapa sih mo manggil aja pake juru bicara?) dan bergegas mendatangi kami.            
Yah, paling tidak beliau datang sendiri dan jauh dari kumpulan sejuta ikhwan. Begitu mendapatkan formulir dan mengisinya, kami celingakcelinguk mencari masmas baik hati yang tadi. Rencananya kami mau mengucapkan terimakasih atas kebaikan hatinya sekaligus minta tolong lagi untuk menyerahkan formulir yang sudah diisi ke sang ikhwan yang sudah berada pada posisi semula. Haha, beruntung sekali, masmas baik hati tadi sudah beranjak pergi.            
Pengalaman kedua yang amat sangat berasa, dan sempat membuatku benci jika harus menginjakkan kaki ke tempat itu adalah saat kami harus menyerahkan berkas ke sebuah pesantren mahasiswa. Nyasar ke sana kemari, akhirnya kami tiba di gerbang yang sepi. Berhubung kami tidak mengenal anatomi pesma tersebut, maka jelas kami nggak berani sembarangan melangkah memasuki gerbang tersebut. Siapa tahu setelah pintu gerbang langsung kamar-kamar santri putra, bisa-bisa kami diteriaki maling saking shocknya mereka melihat ada dua akhwat nyelonong masuk. Kondisi diperparah dengan kenyataan bahwa ikhwan yang hendak kami temui sedang tidak ada di tempat dan saat ditelpon dengan enaknya bilang, “serahkan aja Mbak ke yang ada di pesma”            
Ampun dah! Enak aje lu ngomong, nggak ngerasa gimana groginya kita di tempat kayak gini, bahkan nyaris nggak ada sebiji orang pun yang terlihat keluar masuk gerbang atau di halaman. Masih mending kalau ada satpam, lha ini kosong melompong pos satpamnya.             Dan hampir setengah jam kami duduk termangu di gerbang pinggir jalan tanpa tahu harus berbuat apapun. Yang terlintas dalam pikiran kami adalah kami menanti ada orang yang keluar dari gerbang tersebut dan bisa dimintai konfirmasi. Dan jrengjrengjreng, dari kejauhan terlihat seorang ikhwan yang menuju tempat parkir. Beliau mengambil motor dan kami masuk sedikit ke dalam gerbang merasa senang akhirnya ada orang yang bisa ditanya. Kami menunggu, karena tahu ikhwan tersebut jelas akan lewat pintu gerbang, jadi kami nggak usah lari-lari ke tempat parkir. Perlahan beliau sudah nangkring di motornya, mulai berjalan dan jaraknya semakin dekat dengan kami...(mulai deg-degan).            
Kami melambai, setidaknya memberikan isyarat agar sang ikhwan mau berhenti sejenak. Sang ikhwan menatap kami sejak dari kejauhan, laju motornya melambat, kami sudah lega karena pasti beliau akan menghentikan laju motornya, dan saat kami semakin dekat, beliau membanting stir agak menjauhi kami dan melaju keluar gerbang tanpa menoleh lagi.             Gwooooooooooooondok bukan maen! Hati langsung hancur dan kakikaki menghentak-hentak serasa ranjau dan hasrat mengebom tempat itu saat itu juga. Langsung sama-sama saling melihat, emang tampang kita kayak hantu ya? Kok ikhwannya malah kabur tanpa bersedia berhenti? Terlalu terburu-burukah? Masa tidak bersedia menghentikan laju kendaraan melihat ada dua makhluk langka yang sedang kebingungan di negeri orang?            
Akhirnya, kami menunggu lagi dan karena trauma meminta tolong orang yang keluar dari pesma maka kami memutuskan untuk minta tolong pada orang yang mau masuk ke dalam pesma. Stres cukup efektif membuat nyali berlipat meski tetap saja trauma meminta tolong pada ikhwan yang keluar masuk pesma itu. Pada saat itu, ada seorang mahasiswa yang masuk ke gerbang dan langsung kami cegat tanpa perasaan.            
“mas, mau ke dalem ya?”           
 “Iya mbak,”            
“Tinggal di sini?”            
“nggak, saya mau ketemu temen saya yang anak pesma,”           
“mas, tolong serahin ini ke temen mas yang anak pesma ya, titipan buat mas F*****. Gitu ya.” (bodo amat mau nyampe mo kagak)            
Mahasiswa bingung, menerima berkas seraya mengangguk. (ini akhwat2 kenapa sih? Kayak habis patah hati. Sangar..)            
Semua peristiwa tersebut, terjadi saat aku masih di tingkat satu. Masih belum begitu kebal, masih perasa, masih belum cukup bandel.            
Tapi sekarang, nyaris tidak peduli dengan apa yang mau dilakukan kumpulan ikhwan. Mau jungkirbalik, mau sadis, mau ketawa ngakak, mau merem ataupun mau kabur menghindar ya silakan saja. Bahkan kalo ada ikhwan yang ngomongnya lirih, langsung teriak, “Apa Mas? Nggak denger! Bisa diulang?” Ikhwanophobia sudah rada-rada sembuh. Rada rada karena beberapa minggu yang lalu, tiba-tiba aku mengalaminya lagi.           
 Hyaksss....            
Alkisah saat kami menyusuri daerah Ngruki Cemani untuk mencari sebuah toko buku yang kabarnya punya stok mushaf dengan berbagai macam sampul. Toko buku yang lumayan sepi, namun cukup besar. Beneran deh, itu tempat enak banget. Sejuk, luas ada tempat baca, tempat makannya, distronya bahkan lantainya ada yang dari kaca yang di bawahnya berupa  selokan berisi air dan ikan mas koki (ikan-ikan kecil warna kuning namanya ikan mas koki kan?). belum lagi ada air mancur di dalam ruangan, pusat dari selokan kaca yang berisi air dan ikan tersebut. Belum lagi setelan murottal yang bikin telinga adem.             Tapi....jrengjrengjreng....yang jaga adalah masmas ikhwan alias kumpulan ikhwan. Begitu masuk udah shock duluan, kok pengunjungnya Cuma kami berdua dan yang jaga lebih banyak dari kami. Dan mereka beneran ikhwan. Grogi. Apalagi ketika kami tidak berhasil menemukan stok mushaf yang diinginkan, makin stres lah kami berada di sana. Masa kami keluar begitu saja....             Biasanya aku bakalan pedepede aja keluar masuk toko tanpa beli apa-apa (Cece, ingatkah waktu kita menyusuri toko sepanjang Coyudan tanpa menghasilkan apa-apa?). tapi di toko itu mental kami jatuh, benar-benar jatuh, setidaknya kami harus beli sesuatu. Temenku memaksa diri membeli mushaf, tidak berani bertanya apa-apa dan aku jadi beli majalah yang dari judulnya aja temenku langsung mengerjap tak percaya,” eh belum ada satu jam masuk sini, kamu langsung tobat, beli majalahnya kayak gini.”            
Heh...bukan itu maksudku....teman...aku tertarik bonusnya (hyaaaaaa....)            
Tapi setelah keluar dari toko itu juga, temenku mengaku. “nduk, aku tadi nggak denger masnya ngomong total harganya berapa dan aku asal bayar aja, nggak tahu kembaliannya kurang atau lebih.., pokoknya biar cepet-cepet pergi dari sana”            
Sepertinya ....terapi behavioristik lebih tepat digunakan untuk menangani kasus phobia yang lebay semacam ini. Tetapi..tetapi...tetapi...sarananya itu lhoh!              

Komentar

  1. wahahaha, lucu2,,
    next time tak terapi nduk,
    untung d kampus gak banyak ada ikhwan2 kayak gitu,, coba klo banyak kw bakal sering bolos kuliah,, hehehe

    but agak gak suka dengan pengelompokkan ikhwan yang tau agama banyak dan yang kurang,,
    yang namanya ikhwan kie ya dia laki2 apapun kriterianya,, ^_^

    BalasHapus
  2. wahahaha, lucu2,,
    next time tak terapi nduk,
    untung d kampus gak banyak ada ikhwan2 kayak gitu,, coba klo banyak kw bakal sering bolos kuliah,, hehehe

    but agak gak suka dengan pengelompokkan ikhwan yang tau agama banyak dan yang kurang,,
    yang namanya ikhwan kie ya dia laki2 apapun kriterianya,, ^_^

    BalasHapus
  3. gayamu bu.....,
    uji nyali bu, ke pesma arroyan sendirian tanpa teman,...
    hwah..ikhwan di kampus bukannya cuma satu? itupun udah jadi rebutan....(iya gak sih? iya gak sih? iya gak sih?)
    hehe..betul. seharusnya sebutan ikhwan emang tidak terbatas itu saja, hanya sebagai pembeda.

    BalasHapus
  4. klo yang jadi rebutan kayak nya bakwan nya pak no. ^_^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer