Sangar Nyasar

    Siang hari. Panas menghempas. Re terdiam, memandang keluar lewat jendela kamarnya. Jalanan lengang seperti biasa. Ia menyedot-nyedot ingus di hidung, hasil dari mandi tanpa kembang tengah malamnya selama beberapa hari.

Jalanan masih sama. Halaman masih sama. Pohon matoa yang sedang berbuah bergombol-gombol seperti buah pinang. Rumput-rumput liar. Batu bata berserakan, perdu getah-getahan yang kusam dipoles debu jalanan.

Dua orang lelaki berhenti di jalan depan rumah. Keduanya berbadan besar seperti beruang. Memakai jaket jeans, tengaktengok sekeliling rumah.

Re menyipitkan mata, merasa tidak punya teman sebesar beruang, berwajah dua puluh lima tahun ke atas, berpenampilan seperti orang yang sedang mencari alamat untuk memberikan undangan mantenan.

Salah satu dari mereka menuju ke arah pintu rumah. Re menyambar jilbab, dan melangkah keluar kamar  saat terdengar ketukan di pintu. Re membukanya dan lelaki itu menatapnya. Ekspresinya campuran antara ragu, hati-hati dan waspada. Gestur lelaki itu melihat Re makin bersiaga. Apalagi sosok lelaki itu lebih besar dari yang ia kira, dan ada tatto berbentuk palang di tangan kirinya.

Ya? Sapa Re.

Benar di sini rumahnya Ibu Marsiwi?

Bukan, jawab Re.

Lelaki itu masih menatapnya. Tidak segera beranjak pergi. Seperti tidak yakin.

Benar, disini bukan rumah Ibu Marsiwi ?

Re mengangguk sekali lagi. Lelaki itu masih belum beranjak.

Di sini rumah Ibu Marsi, kata Re. Mencoba membantu, mungkin kalau-kalau laki-laki di hadapannya adalah tim termehek-mehek.

Ibu Marsi itu, anda? Laki-laki itu menunjuk Re.

Re memaki dalam hati. Emang tampangku udah mirip ibu-ibu ? sialan…

Bukan, jawab Re. Ibu saya.

Lelaki itu mengangguk, tanpa bicara mengirimkan bahasa nonverbal bahwa dia ingin bertemu ibu Marsi. Re beranjak, memanggil sang mamah. Sang mamah tergopoh-gopoh sambil menggendong Dede Agi yang belum sempat dipakein celana setelah ngompol.

Siapa nduk ?

Re angkat bahu, kembali ke ruang tamu dan kaget melihat sang tamu sudah duduk di kursi. Perasaan tadi belum dipersilakan masuk, apalagi duduk…. Mau apa sih ini orang…

Ya, ada apa ya Mas ? tanya sang mamah sambil menggendong-gendong dede Agi dan bawa celana.

Ibu yang bernama Ibu Marsiwi ?

Ya elaaaaaah…ini orang ! Re gemas.

Bukan, ada apa ya? Ada perlu apa? Urusan bank, jawabnya.

Re dan mamah bengong. Urusan bang? Bang Amir? Bang Syarif? Bang umar? Bangkotan? Bang Sate? ^_^v

Maaf, ibu kelahiran  tahun 58?

Bukan, tahun 53.

Re makin mencak-mencak dalam hati. Kalau target pencarianmu itu kelahiran tahun 58, tega-teganya tadi kamu menuduhkannya padaku…..

Urusan bank apa maksudnya ya?

Sang lelaki menyebutkan merek sebuah bank. Barulah Re dan mamah mengerti. Laki-laki sangar di hadapan mereka adalah seorang debt kolektor. Berhubung Re dan mamah tahu kalau seumur-umur mereka berdua belum pernah ngutang ke bank (apalagi bank yang nggak tahu tempatnya dimana), maka mereka menggeleng-geleng. Dede Agi sampai melongo melihat laki-laki bingung di hadapannya.

Maaf mas, saya nggak pernah ada urusan utang dengan bank, kata sang Mamah.

Ngutang di tukang sayur aja jarang, apalagi ngutang di bank.

Soalnya ibu marsiwi ini ada urusan yang belum selesai dengan bank, kata lelaki itu.

Nama saya marsi mas, bukan marsiwi.

Laki-laki itu melihat alamat di tangannya. Tapi disini benar kan bu, gatak rt 01 rw 09.

Mamah mengangguk-angguk.

Ketua rt di sini rumahnya dimana sih ?

Re dan Mamah memberikan petunjuk jalan.  Tanya sono ma ketua rt.

Ibu marsiwi ini dulu pernah kerja di poltry shop.

Re dan mamah makin bingung. Ini orang mabok laut pa ya?

Maaf mas, kalau di sini  adanya bu marsi, bukan marsiwi.

Lha kalau bu marsiwi itu, ada nggak di sekitar-sekitar sini? Yang rt 01 juga.

Re dan mamah mencoba mengingat-ingat. Sedodol-dudulnya Re mengingat nama-nama tetangganya, ia yakin persis nggak ada nama marsiwi di lingkungan tempat mereka tinggal. Apalagi sang mamah yang sudah sejak tahun 1978 tinggal di wilayah tersebut.

Nggak ada Mas...

Tampang sangar lelaki itu meluruh, tampak bingung. Dede Agi malah menangis.

Sang mamah malah lanjut ngobrol dengan lelaki itu, padahal Re udah sumpek melihat para debt kolektor itu. Yang satu duduk bingung di dalam rumah, yang satunya lagi mondarmandir tanpa inisiatif di teras.

Bicara sana sini, akhirnya lelaki itu bertanya lagi. Kira-kira di sekitar sini, ada nggak yang namanya bu Marsiwi ?

Mamaaaaaaaaaaaah…..usir aja ni orang. Ngomong dari tadi kok teteup aja nggak nyantol. Udah dibilangin kagak ada yang namanya bu marsiwi, masih aja nanya.

Nggak ada, mas. Tadi kan udah dijawab kalao nggak ada yang namanya bu marsiwi, kata Re. Tegas bin ketus. Dari bank (sensor) cabang mana sih ?

Sang lelaki tampak enggan menjawab. Bank (sensor) S****** meliputi Jogja.

Ternyata begini toh tampang para debt kolektor. Kesasar pun mereka masih sok pede, nanya-nanya pertanyaan yang sama berkali-kali seolah-olah sedang berhadapan dengan reinkarnasinya jim carey..... re geleng-geleng kepala.

Capek bertanya, malu, nyasar, salah alamat, digalakin anak gadis orang, akhirnya mereka menyerah. Pamit pergi, dan hanya sekali minta maaf. Masih bingung. Sayang banget badan gede mereka kalau kesangaran mereka harus hancur lebur karena nyasar. Hahaha....    

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer