Standar Untuk Bangga

Beberapa waktu ini, saya bertemu dengan dua tipe orangtua yang berbeda ketika tengah naik bis dalam perjalanan pulang ke solo atau pun ke Jogja. Orang tua yang pertama adalah seorang bapak-bapak. Kami bertemu di sebuah bis kota yang dijadikan tumbal untuk oper penumpang bis gede Jogja-Solo yang mogok.

Kami duduk bersebelahan dalam bis yang penuh sesak dan saya diajak ngobrol. Saya ditanya kuliah dimana, semester berapa, udah lulus atau belum. Saya jawab. Lalu bapak-bapak tersebut bercerita mengenai putranya yang juga anak kedokteran UNS angkatan yang sama dengan saya, September besok mau wisuda dan akan segera menjalani kepaniteraan klinik.

Putranya adalah seorang calon dokter. Pembicaraan itu makin merambat dan seperti biasa, saya selalu jadi pihak yang didominasi. Tak apa. Karena saya tinggal menyediakan telinga, tersenyum atau mengangguk-angguk menanggapi macam ondel-ondel. Perkara nanti saya nggak mudeng, atau jengkel dengan konteks pembicaraan yang melangit, itu urusan nanti karena tidak mungkin saya dengan innocentnya berkata Pak, Bapak sombong sekali….

Hihi. Bapak tersebut mengatakan kalau semua anaknya pinter-pinter. Kedokteran UI, kedokteran UGM, kedokteran UNPAD, kedokteran UNS. Lalu ada yang kerja di freeport, gaji gede, kerja di Kalimantan, ranking 2 tes apa gitu, ditanyain toefl sama kakak tingkatnya, fasilitas kerja yang aduhai, belajar sampai jam 4 pagi, lulus dalam waktu tiga setengah tahun untuk gelar sarjana kedokteran, mau kepaniteraan klinik,....

Bapak tersebut, terlihat sangat bangga.

Suatu ketika, saya pulang ke Jogja, naik bis Surabaya-Jogja. Saya duduk di sebelah ibu-ibu asal Ngawi yang akan menuju ke Prambanan. Saya diajak ngobrol, didominasi lagi. Hehe.

/hei, saya tidak punya masalah dalam hal mendengarkan. Satu hal yang sangat khas adalah hanya orang yang punya kecendrungan sifat banyak bicara yang biasanya akan menempatkan saya sebagai pendengar. Ya iyalah Nung…/

Ibu tersebut bercerita mengenai putranya (lagi?). Sepertinya topic mengenai putra-putri adalah topic yang asyik dibicarakan para orangtua dengan bocah-bocah semacam saya. Putranya lulusan Fisika UNS, angkatan 2005, sekarang sudah bekerja dan adiknya, perempuan, juga anak UNS semester empat. Kehidupan-kehidupan putranya kemudian diceritakan dengan kebanggaan yang jelas terpancar dari wajah beliau.

Saya tangkap satu hal dalam pembicaraan tersebut. Putranya adalah seorang anak laki-laki yang tidak neko-neko dan patuh pada orangtua. Bapak dan Ibu tersebut, bangga pada putra-putranya. Setidaknya di hadapan saya.

 Tetapi saya melihat adalah ada hal yang berbeda dari kedua bapak ibu tersebut. Standar yang beliau-beliau gunakan untuk merasa bangga pada putra-putrinya, berbeda. Bapak yang pertama, bangga karena putra-putranya dinilai berhasil secara akademis dan materi. Siapapun juga pasti akan bangga jika punya putra-putra yang dokter semua, lulusan dari universitas negeri ternama (di Indonesia) serta berhasil secara materi. Seingat saya, bapak tersebut sama sekali tidak menceritakan mengenai moral putra-putranya. Baiklah, wajar jika bapak tersebut bangga.

Ibu yang kedua, bangga karena putranya adalah anak yang tidak neko-neko dan patuh pada orangtua. Secara akademis, biasa saja. Secara materi, juga biasa karena putranya masih terhitung baru bekerja di sebuah instansi.  Dan kelakuan putranya lah yang lebih banyak dibanggakan. Seorang anak laki-laki yang penurut, tidak macam-macam, patuh dan menghormati orangtua. Baiklah, saya juga akan bangga jika punya putra semacam itu.

Setidaknya, putranya bukan pecandu narkoba, belum pernah masuk penjara, belum pernah nakal menghamili anak gadis orang (apalagi bikin pideo mesum), tidak pernah mengancam untuk bunuh diri jika orangtuanya tidak membelikannya motor, tidak bunuh diri jika putus cinta, belum pernah jadi curanmor, tidak melawan orangtua, tidak membentak orangtua, tidak suka mabuk-mabukan atau balapan motor (kecuali kepepet ngejar copet), serta mau sholat dan mendoakan orangtuanya.

Saya pikir, standar yang digunakan orangtua untuk merasa bangga dengan kita putra-putrinya, bukan melulu persoalan materi. Belum tentu orangtua akan merasa bangga dengan putranya yang jadi PNS, pejabat, pengusaha kaya, dokter spesialis bedah syaraf, dll. Apalagi jika putranya adalah PNS yang kemudian dipecat karena selingkuh atau suka jalan-jalan pas jam kerja, pejabat yang korupsi dan selalu menyakiti hati rakyat, pengusaha kaya yang nggak pernah bayar pajak, dokter spesialis bedah syaraf yang salah nyambungin syaraf pasien atau melakukan malparaktek tanpa bertanggungjawab dll.

Saya pikir juga, orangtua punya standar minimal untuk merasa bangga dengan putra-putrinya. Minimal, orangtua akan merasa bangga serta bahagia jika putranya-putrinya adalah anak yang baik, penyejuk mata,  taat pada kedua orangtua, menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama, selalu mendoakan orangtua, tidak berbuat kejahatan, punya moral yang baik . Itu standar minimal yang digunakan.

/Sok tahu sih, tapi akuilah wahai bapak-bapak dan ibu-ibu, sebenarnya punya putra-putri yang soleh dan solehah adalah hal yang sangat membanggakan dibandingkan punya anak yang berhasil secara materi dan bagus secara akademis tapi adalah seorang atheis atau punya moral  macam mana pula tak pantas disebut/

 He.

Saya bicara mengenai perbandingan. Perbandingan selalu mengacu pada sesuatu yang dijadikan standar untuk membandingkan. Sesuatu dikatakan besar jika dibandingkan dengan sesuatu yang kecil. Sesuatu dikatakan kecil jika dibandingkan dengan sesuatu yang besar.

Hei, saya juga tidak memprovokasi agar kita untuk malas bekerja, atau malas lulus macam anak psikologi 2006 dengan nomor induk mahasiswa G0106082. Jika usia kita telah dua puluh tahun lebih, setidaknya, kita tahu standar minimal apa yang digunakan orangtua kita untuk merasa bangga dititipi anak semacam kita.

/Detik ini juga, saya berpikir, apa yang ibu banggakan dari diri saya/  

Komentar

  1. jfs mbak.... bagus tulisannya... :) mari tidak merasa sombong, marii ber PD saja bahwa apapun yang kita miliki... adalah sebuah kesuksesan :)

    BalasHapus
  2. mari bersyukur atas apa yang kita punya dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik :-)

    BalasHapus
  3. selalu shabar dan bersyukur ya pak kun... ^_^v

    BalasHapus
  4. Barangkali itulah juga salah satu sebab anak bisa jadi cobaan... Karena bisa membentuk semacam pola pikir juga bagi orangtuanya.

    BalasHapus
  5. udah hamil berapa bulan ni mbak? butuh usulan nama gak? saya pinter ngarangngarang nama loh .. :-p

    BalasHapus
  6. Pekan kemarin udah berada dalam kondisi nggak hamil lagi, Kun...

    BalasHapus
  7. Dikuret, keguguran. *ini kok malah ngobrol di rumah orang :D*

    BalasHapus
  8. subhanallah, semoga diberi kekuatan dan ganti yang lebih baik buat mbak niwanda dan suami.

    /rumahnya mbak yang ini sering buat arisan kok, jadi ngobrol di sini gak papa mbak :-p/

    BalasHapus
  9. Aamiin, matur nuwun. Kembali ke topik, kadang berpikir serupa ("gitu amat ya ceritanya"), tapi terus ingat, suatu saat ketika ada di posisi itu (anak dianugerahi pencapaian mengagumkan), sanggupkah menahan diri?

    BalasHapus
  10. sanggup, tapi susah. ^^

    /"anak saya sekolahnya gratis lho. di sekolah itu lohhh...sekolahnya calon pegawai pajak. yang di jakarta itu lho"/

    BalasHapus
  11. jadi inget padang bulan, mbak.

    mana? katanya mau dipinjemin..

    BalasHapus
  12. Pak Kun emang tukang OOT di rumah saya, suka ngajak arisan pula :-p

    /takgawake gebuk kalo besok kayak gitu lagi/

    BalasHapus
  13. antriannya masih puanjang lebar......heyhey...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer