Kue Tart Pandangan Pertama

Ngomong-ngomong, sejak beberapa hari yang lalu, saya ribut minta kue tart ke suami. Memang ya gak ada tuntunan secara agama buat memperingati hari lahir, saya juga cuma ribu-ribut caper minta kue tart ke suami karena permintaan nasi kuning bikinan suami tidak di-ACC oleh suami.

Ngomong-ngomong lagi tentang kue tart, selalu membawa ingatan saya kepada suatu hari semasa saya kecil dimana saya melongo nan takjub melihat kue tart pengantin dua tingkat berwarna merah jambu dengan patung sepasang pengantin di atasnya. Maklumlah, pada masa itu kue tart pengantin masih merupakan barang langka dilihat dan roti-rotian pada jaman itu masih seputar kue bolu bundar dengan hiasan seciprit batik coklat yang dioleskan dengan lidi sewaktu adonan akan dibakar.

Kue tart pandangan pertama tersebut membuat saya takjub, dan saya ingat sekali karena saking penasaran dan kepinginnya, saya sampai ngarep sang pengantin akan segera memotong kue tersebut lalu dibagi-bagikan pada hadirin. Sayangnya, hingga acara usai kue pengantin tersebut masih utuh bertengger di meja dengan krim merah jambunya yang melambai-lambai untuk diculek. Berhubung saya anak yang manis pada waktu itu :-p, saya tidak merengek atau melakukan kenakalan apapun demi mendapatkan sepotong kue tart tersebut.

Waktu pun berlalu dan ingatan seputar kue tart merah jambu tersebut masih terpatri dalam ingatan saya. Saya justru melupakan saat dimana bertahun-tahun kemudian saya beneran mencicipi kue tart untuk pertama kali, saya lupa dimana, yang jelas pada acara ulang tahun dan oh ternyata kue tart hanyalah sebuah kue yang diolesi krim. Pemahaman sederhana tersebut menggiring saya pada sebuah pemahaman sederhana pula mengenai rasa kue tart yang menurut saya ternyata juga sederhana.

Selanjutnya ada saat-saat lain dimana saya juga mencicipi kue tart lagi. Cicipan itu selalu membawa kenangan akan kue tart merah jambu saat saya masih kecil.   Pada ide konyol tentang niat menyusun tumpukan roti tawar kemudian mengolesi seluruh permukaannya dengan margarin agar menyerupai kue tart. Pada acara ulang tahun. Pada nasi kuning buatan Ibu ketika hari jadi saya. Pada usaha Ibu untuk menjadikan hari jadi menjadi sedikit spesial dari hari biasanya dengan memberikan tawaran kado 'mentahan' ketika saya beranjak dewasa. Pada usaha Ibu untuk selalu mengingat hari ulang tahun putra putrinya, meskipun sedang berjauhan. 

Seperti kemarin, ketika otak-beranjak-dewasa saya sebenarnya sudah tidak mensakralkan momen hari jadi, Ibu menelpon saya, mengucapkan selamat hari lahir, seraya seperti biasa menawarkan mau kado apa. Saya terkekeh, dibalut sikap tidak romantis saya yang kadang muncul tidak pada tempatnya, saya minta didoakan saja. 

Doa-doa pun meluncur. Semoga Allah mengabulkannya dan memberikan yang terbaik. Aamiin.

Kembali lagi soal kue tart yang saya rengekkan kepada suami. Rengekan caper :-p yang semakin hari semakin menjadi dan menyusut drastis di H-1. Saya hanya menggodanya, karena di penghujung  hari itupun saya bilang, tidak usah dibelikan kue tart, mari kita nanti makan di luar saja  ---->aslinya karena sedang malas masak :-p

Lalu sepulang saya kerja, pikiran saya tertuju pada kulkas. Ada hal-hal semacam 'I can read your mind' ketika kita sudah membagi keseharian dengan seseorang. Pikiran saya, suami saya tetap membelikan saya kue tart dan ternyata memang iya :-)





Terimakasih sebesarnya untuk semua orang yg telah menyayangi saya :-). Sejujurnya, ini kue tart ulang tahun pertama saya :-). Dan saya tetap kangen dibuatkan nasi kuning oleh Ibu :-)


Bontang, malam minggu kedua bulan November. 

Komentar

Postingan Populer