Karena Rindu

Mataku buram ketika mulai menuliskan ini. Aku ingin menyingkirkan bayangan bening di pelupuk mata yang sedemikian menghangat, tapi yang ada malah ia-nya meleleh membasahi pipi.

Mungkin suatu saat pada masa-masa ini, engkau akan dapati aku seolah hidup pada duniaku sendiri. Mungkin akan engkau dapati waktu dimana aku berjalan lebih banyak dari biasanya, menyusuri setapak demi setapak jalanan yang tidak lazim hanya untuk mendapatkan efek endorfin. Bukan apa-apa, aku melakukannya ketika kudapati rasa rindu menghajarku hebat ketika diam di tempat.

Mungkin pula, kau akan dapati aku mengetik membabi buta, menghabiskan jam demi jam untuk menuliskan kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan apa yang tengah kuperjuangkan saat ini. Semua itu kulakukan karena ketika jemariku terdiam sejenak, aku hanya akan menggerakkannya untuk meraih telpon seluler, berharap bisa menelponmu atau menerima pesan manis darimu.

Mungkin pula, kau akan dapati aku bergelut dengan puluhan bacaan yang aku sendiri tidak memahami benar bahasanya. Karena hanya dengan tenggelam di sana, aku akan dapati saat-saat dimana aku terlalu pusing atau sakit kepala untuk sejenak merindukanmu. Isi kepalaku terlalu ribut dan sibuk untuk mengolah informasi berbahasa Inggris di lembar-lembar di hadapanku. Maka rindu padamu pun menjadi tidak terasa menyakitkan untukku.

Mungkin pula, kau akan dapati aku begitu benci untuk beranjak tidur, karena ketika terbangun dan tidak mendapati dirimu di sisiku, rasanya seperti penderita amnesia yang baru tersadar kembali dan kehilangan banyak momen yang tak bisa diingatnya.

Mungkin pula, kau akan dapati aku begitu membenci hujan dan kesepian di malam hari, kau akan dapati aku harus mencari saluran radio untuk membuat kamarku terdengar bersuara. Sungguh, sekarang pun aku sudah membenci rasa sepi di kamar ini, menyetel radio setiap waktu hanya agar ada suara, dan memandangi hujan turun menderas pun menjadi sedemikian nyeri di hati. Karena hujan dan sepi selalu memutarkan kenangan yang telah terbentuk bersamamu dan aku rindu.

Kenapa aku terkadang begitu takut merindukanmu? Karena aku menangis ketika rindu dan sudah berkali-kali mencoba untuk tidak menangis ketika rindu, tapi tetap saja airmataku mengalir. Tahu bahwa seharusnya aku tidak menangis, tidak mengeluh, dan bukan posisiku untuk harus dikasihani. Dari sudut manapun, aku tahu bahwa bukan kapasitasku untuk dibenarkan menangis, mengeluh, dikasihani atau menunjukkan pada dunia betapa beratnya berjauhan denganmu.

Itu yang membuatku tidak bisa mengeluh kepada orang lain ketika merasakan beratnya ini semua. Siapa aku? Apa istri yang membiarkan suami mencuci, tidur dan masak sendiri itu bisa mengeluh dan pantas dikasihani ketika menangis dan merasakan beratnya perasaan sendiri? Dunia hanya akan tertawa, "salahmu sendiri, itu resiko dan konsekuensi, kasihan suamimu, tidak perlu kasihan padamu"

Maka pada akhirnya, saya mengerti dan memutuskan untuk tidak merengek-rengek yang tak penting.


Komentar

Postingan Populer